Senin, 10 Juni 2013

Akhir Penantian


Suara angin bergemuruh  bagai hatiku yang tak menentu. Orang-orang banyak yang berlalu lalang di sekitarku seolah tak merasakan keberadaanku.  Siang hari ini memang cerah tapi tak secerah hatiku yang sedang dirundung pilu. Aku sedih, aku kecewa tak ada di dunia ini yang mengharap keberadaan ku. Semua orang-orang yang dekat denganku sibuk dengan kehidupan masing-masing. Tiada satupun dari mereka yang menghiraukan aku disini.
Disekolahku pun aku selalu sendirian, tiada satupun yang mau jadi temanku. Kata mama aku ini anak pintar, mungkin mama memang benar itu nampak selalu saat penerimaan raport aku selalu menjadi juara 1 entah itu kebetulan atau tidak aku juga kurang mengerti. Tapi aku berharap setelah aku mengikuti ujian nasional kemarin aku berharap akulah yang jadi juara umum. Mungkin juga teman-temanku selalu menganggap aku sombong  atau aku aneh. Aku tak pernah bisa memahami perasaan mereka, mereka selalu tak mau dekat-dekat denganku. Terkadang aku ingin menghujat Tuhan mengapa ini semua terjadi padaku.
“ Kenapa aku terlahir di dunia ini!!!” aku menjerit sekuat tenaga, suaraku melengking tinggi, aku sekarang sudah seperti orang depresi yang  lebih mendekati gila, bagiku. Namun bagi orang lain aku memang sudah di anggap gila.
“Cantik-cantik kok gila...!” suara rendah dari salah seorang pengunjung  taman yang sungguh merendahkan aku.
Taman mulai sepi karena hari sudah menjelang malam. Dinginya angin sudah mulai menusuk tulangku. Aku tak ingin pulang kerumah. Aku merasa dimana aku berada tak ada satupun yang menganggap aku ada. Mama yang selalu aku rindukan tak pernah lagi bisa membelai rambutku dengan lembut. Papa yang selalu melindungiku kini pun telah sirna.
Aku serasa tak kuat lagi untuk hidup bersama dengan Nenek ku yang hanya menambah rasa sakit hatiku ini. Tak ada teman, tak ada keluarga yang bisa aku ajak berbagi cerita. Sungguh terlalu banyak beban dalam hatiku ini. Entah sampai kapan aku harus menanggung beban seperti ini sendirian saja. Perlahan kakiku mulai melangkah menyusuri lampu-lampu kota yang berjajaran syahdu.
“ Irene kenapa malam-malam begini baru pulang!!!” bentak nenekku saat aku baru memasukki rumah ku sendiri yang sudah seperti neraka bagi ku. Aku tak bergeming aku langsung saja melewatinya, bagiku tak ada artinya menanggapi ocehan nenek tua itu. Tanpa fikir panjang nenekku lansung menghampiriku dan mencengkeram rambutku. Aku hanya tersenyum kecut padanya.
“Anak gila, ga punya adat... berani sekali kau ini melawan nenekmu sendiri!!! Siapa yang mendidik mu sehingga kamu jadi anak yang tak punya sopan santun!!!” nenek ku mulai mencaci-maki aku.
“ Apa nenek tidak sadar, nenek sendirilah yang mebuat aku jadi begini.” Aku tersenyum kecut. Tidak menyia-nyiakan waktu, tangan nenekku langsung menampar  pipiku bertubi-tubi.  Perih memang, tapi lebih perih hatiku daripada pipi ini, aku merasa tak kuat lagi menjalani hidup yang seperti ini. Aku selalu menyesal kenapa Nenek berubah menjadi monster yang menhantui hidupku.
“Irene, diam kamu!!! Semua ini bukan salah nenek, melainkan salah kamu sendiri!!!” nenek semakin menjadi-jadi kemarahannya. Aku tak mempedulikan nenekku itu, aku sudah merasa tak punya masa depan. Jangankan untuk mendukung masa depanku Nenekku sendiri tak pernah menganggap aku ada, padahal tinggal dirinya yang aku miliki saat ini. Aku kembali keluar dari rumah ku sendiri, aku menyambar mobil yang ditinggalkan mamaku, langsung saja aku tancap gas hingga mencapai kecepatan maksimal. Saat ini yang ada di dalam benakku yaitu tempat yang teduh dan yang menenangkan jiwaku.
Aku dan mobilku menyusuri jalanan kota yang tak pernah tidur di peristirahatan malam. Mobilku berlenggang diantara mobil-mobil di jalan itu. Aku menangis, aku sedih kenapa mama meninggalkan ku begitu cepat. Tiga tahun telah berlalu tetapi luka yang menyayat karena kepergian mama dan papa masih terasa di palung hati. Angan ku melayang disaat kebahagiaanku persama papa dan mama di hari lalu, Nenek tua yang ada di rumahku sekarang pun beubah jahat semenjak kepergian orang tuaku, aku tau dia terpukul, tapi aku jauh lebih terpukul di tinggal pergi mama dan papa.
“Ciiiiiiiiiittttttttttt. Bruuuukkkkkk....!!!!!!!!!” suara yang dahyat dan begitu menggelegar. Aku memang sedang tidak fokus menyetir. Tiba-tiba saja didepanku ada Container dari arah yang berlawanan.  Aku bisa menghindarinya tapi memang nasibku pohon disisi jalanlah sebagai gantinya. Aku terkulai, tubuh ini tak terasa lagi hanya gelap yang menyelimutiku.
***
Aku berjalan jauh menyusuri tempat yang sangat asing bagiku. Aku tak tau aku berada dimana. Aku masih memakai seragam putih abu-abuku. Aku terus berjalan tanpa arah, aku terus berjalan, aku merasa seakan aku berada dalam ruang hampa yang ada dalam bayanganku selama ini. Aku tak kuasa lagi jika harus berjalan, hati ini lelah hingga aku terduduk. Aku menutup mataku sejenak seakan aku ingin tidur tetapi perlahan ketenangan jiwa menghinggapi aku.
 Ku buka mataku sedikit demi sedikit, aku melihat secercah bayangan papa mama yang aku rindukan. Aku ingin berlari menghampiri mereka tetapi tubuhku terasa kelu, sungguh aku ingin meluapkan rasa yang selama ini tertahan. Mereka berdua tersenyum simpul dan menyejukkan hati ini. Aku ingin bangkit, ku coba sekuat tenagaku untuk bangkit. Aku terjaga ku lihat sekelilingku sepi, sunyi, kutemukan hanya tubuhku tergeletak di ruangan ini.
Ku merasakan tubuhku sakit, tiada seorangpun yang menemaniku disini. Aku saat ini hanya bisa terdiam, air mataku bercucuran hatiku sakit ‘ Tuhan kenapa Engkau membiarkan mataku terbuka lagi???’ tangisku dalam hati. Aku mencoba menutup mataku lagi hingga akhirnya aku tertidur dalam tangisku.
“ Irene maafkan aku, aku datang terrlambat. Aku janji aku tak akan meninggalkanmu, tapi kamu harus berjanji untuk bangun dan bertemu denganku.” Ada sebuah suara kedengaran sangat bersedih hati, sambil menggenggam tanganku dia berkata. Seakan aku ingin membuka mataku dan melihat siapa gerangan yang menangisiku. Tapi aku tak bisa aku terlalu lelah.
“ Irene sudah sadar dari komanya, sekarang dia hanya tertidur jadi Ressa harus sabar ya.” suara lain menyahutnya, sangat berwibawa sepertinya dia adalah dokter yang merawat aku.
Ressa, jadi yang menangisi aku itu Ressa. Siapa Ressa itu sepertinya aku tidak begitu asing dengan nama itu. Aku terjaga kembali. Dan lagi-lagi aku sendiri, orang yang tadipun telah pergi. Terkadang aku merindukan bau dunia ini, segar menyejukkan walaupun banyak masalah yang mendera hidupku ini aku ingin selalu bersyukur kepada Tuhan yang selalu bersamaku.
“ Irene akhirnya kamu terjaga juga, sudah lama saya ingin berbincang dengan kamu. Kamu kan sudah lama terbaring disini, setiap hari saya memeriksa kamu tapi kamu hanya bisa terdiam membisu.” Kata Pak Dokter yang selama ini telah merawat aku. Masih muda ternyata. Aku tersenyum simpul kepadanya.
“ Pak sudah berapa lama aku terbaring disini? Kenapa aku bisa disini?” dengan terbata aku memberanikan diri untuk bertanya, lidahku kelu serasa lama tak dapat bicara.
“ Iya Irene kamu telah setahun lamanya terbaring disini. Kamu kecelakaan, waktu itu kondisi kamu sangat parah. Ressa yang menolongmu dan membawamu kesini. Dan nenek kamu juga sangat tertekan.” Jelas Dokter itu.
“ Nenek dimana???” Aku ingin bangun dari tempat tidurku, tapi tubuh ini tak bisa digerakkan. Aku juga merindukan nenekku yang jahat itu. Dialah satu-satunya keluarga yang tersisa. Air mataku kembali membasahi mataku.
“ kamu tenang dulu ya Irene, berat memang untuk menerima semua ini. Saya tinggal dulu Irene.” Kata dokter itu sangat tenang. Dokter itu pamitan dan keluar dari ruangan ini. Kulihat di sebelahku ada rangkaian bunga yang masih segar, sepertinya memang baru di ganti. Bunga kesukaanku. Siapa yang tahu kalau aku sangat menyukai bunga mawar putih ini.
Ingin sekali rasanya aku untuk keluar dari ruangan yang pengap ini. Aku ingin menghirup udara segar yang dulu pernah aku rasakan. Tapi kini aku masih sendiri. Tiada satupun teman yang menjengukku, memang aku tak punya teman seorang pun. Kata Dokter kondisiku semakin membaik. Tapi itu kata Dokter, kalau kataku kondisiku hancur, aku telah terbaring tak berdaya diruangan ini selama lebih dari satu tahun. Aku merindukan rumah yang kuanggap neraka dulu. Aku merindukan nenekku itu.
Aku menyesal sekarang andai aku mampu berbuat baik pada orang yang jahat kepadaku pasti aku hidup lebih bersyukur.’Nenekku maafkan aku, seharusnya aku dapat nenek rasakan dulu. Nenek juga terpukulkan dengan meninggalnya mama.’ Ucapku dalam hati.
“Irene kamu sudah bangun ya? Sudah lama aku ingin ngobrol dengan mu.” Kata seorang cowok yang memasuki kamarku. Aku terheran-heran siapakah gerangan tampaknya dia begitu mengenalku, tetapi aku merasa tidak begitu asing dengannya. Dia tersenyum simpul ke arahku, akupun juga membalas dengan senyuman. “Irene, kamu masih mengingat aku?” tanya cowok itu dengan penuh harap. Tetapi aku menggeleng. Sungguh aku tidak yakin kalau aku mengenalnya. Cowok tadi kemudian bercerita tetapi anehnya dia tidak menceritakan jatidirinya mungkin dia ingin memancing ingatanku.
“ Irene, kita jalan-jalan ya, aku ingin kamu merasakan kembali udara yang segar.” Cowok itu langsung memindahkan tubuhku ke kursi roda dan mengajakku mengelilingi bangunan yang selalu beraroma obat ini.
 Setelah dia lelah sendiri, akhirnya dia mengakui jatidirinya, dialah Ressa. Aku sedikit sukar mengingatnya. Yang aku ketahui dia sangat baik mengenal aku. Dialah Ressa, teman kecil ku dulu yang maninggalkanku 9 tahun yang lalu. Dulu sewaktu kami masih kanak-kanak di berjanji akan selalu menjagaku, melindungiku dan tidak akan jauh dariku.
Tetapi saat itu Ressa harus pergi bersama dengan orang tuanya. Mulai saat itu aku sedih, aku tidak percaya dengan teman. Ressa tak pernah lagi memberi kabar kepadaku. Aku selalu menunggu kehadiran Ressa kembali. Sembari melihat bintang sirius yang tak pernah lelah bersinar terang. Dulu aku juga tidak ingin lelah menunggu Ressa. Hingga kini Ressa telah ada di depan mataku lagi. Ressa sudah datang untuk mengisi hari-hariku lagi.
Ternyata penantianku tidak sia-sia, Ressa datang kembali bukan untuk berpamitan lagi, tetapi untuk menepati janjinya di massa kecil dulu. Dengan penuh kesabaran dia selalu menemaniku hingga hari berganti hari dan bulan berganti bulan. Ressa senantiasa membimbing langkahku menapaki hari-hari yang sukar bagiku. Hingga aku mampu kembali ke kehidupan yang seperti dulu Ressa tetap ada di samping ku. Aku tenang sekarang karena aku telah menemukan teman yang sepadan untukku.
“ Irene sekarang waktunya kita pulang ya, kamu sudah sembuh dan kata Dokter kamu sudah boleh pulang.” Kata Ressa dengan wajah yang sumringah.
“ Benarkah, jadi sekarang aku boleh pulang yea,,, aku bisa ketemu nenek lagi donk.” Aku sudah tak sabar lagi ketemuu nenek ku yang jahat kepadaku dulu. Tak terasa, setahun sudah aku terbaring dan tinggal di tempat ini.
“Ehm, nanti kalau sudah sampai ada sesuatu hal yang ingin aku sampaikan.” Sepertinya Ressa menyembunyikan sesuatu. Dia mendorong ku yang masih terduduk di kursi roda ini. Kami segera menuju mobil yang akan mengantarkan kami pulang ke rumah. Beberapa menit berlalu, akhirnya sampai juga kami di rumah megah ini tapi sayangnya tak berpenghuni. ‘pasti hanya nenek tua itu’  telintas di benak ku. Setelah aku memasuki rumah ku ini aku jadi heran sendiri dimana gerangan nenek itu.
“Ressa, nenek dimana?” tanyaku tidak sabar. Dia tak menjawab, tapi hanya memberiku sebuah album foto. Jantung seakan berhenti berdetak, In Memoriam: Ny.  Ratna Hanggarbeni. ‘Aku tak percaya, nenek telah tiada,  kenapa! Kenapa!!!! Kini aku benar-benar seorang diri tak ada lagi keluarga!’ teriakku dalam hati. Perlahan tapi pasti air mata ini membasahi pipiku, Ressa memelukku hangat, seakan ikut merasakan apa yang aku rasakan.
“ Irene, jangan sedih, biarkan nenek istirahat dengan tenang disana. Nenek ga pernah lelah menunggui kamu di rumah sakit kala itu, akhirnya beliau jatuh sakit. Tepat bulan lima di hari ulang tahunmu nenek tutup usia. Kamu yang sabar ya Irene!” Ressa mencoba menenang kan aku.
“Ressa, kenapa ini semua terjadi kepadaku, aku kecelakaan kemaren karna aku bertengkar dengan nenek Res, Aku menyesal Ressa, aku belum sempat minta maaf. Kenapa aku terlambat?” tangis ku semakin menjadi-jadi dipelukan Ressa.
“Berbesarhatilah Irene, semua ini telah terjadi. Kamu yang sabar menerima semua ini.!” Hibur Ressa. “Oh iya, selamat ya kamu mendapat juara umum kelulusan kemaren, karena kamu terbaring koma, jadilah aku yang mengurus ijazah kamu. Tahu ga, nenek sangat bangga kamu menjadi juara, sebelum beliau pergi, beliau menitipkan surat ini untuk kamu.!” Tambah Ressa.
Aku mulai membaca...
‘Irene cucu kesayangan nenek, disaat kamu membaca surat ini pastilah nenek telah tiada. Bukan nenek tidak mau menunggu kamu hingga membuka mata. Tetapi nenek sudah harus menyelesaikan pertandingan nenek. Nenek sadar nak, nenek sangat bangga mempunyai cucu yang cerdas sepertimu. Cucu nenek yang tegas, cucu nenek yang berani dan sangat nekat. Irene, maafkan perlakuan nenek kepadamu, seharusnya nenek tidak terlalu keras kepadamu, seharusnya nenek memberikan kasih sayang yang melimpah menggantikan orang tuamu, maafkan nenek yang sangat terpukul ini nak. Nenek juga yang membuatmu terbaring koma, andai malam itu kita tidak bertengkar pasti semua tidak begini jadinya. Selepas Nenek pergi, kamu tidak boleh sedih Irene. Sekarang ada Ressa yang bisa menjagamu, menemanimu setiap saat. Satu pesan Nenek untuk mu Irene, lanjutkan pertandinganmu sebaik mungkin, hingga kita kembali bersama suatu saat nanti...’ aku memeluk erat surat itu, aku sungguh menyesal telah menyia-nyiakan hidup bersama nenek. Nenek ku yang jahat, nenekku yang tersayang.

Kini aku melanjutkan hidupku lagi, aku mulai menata kembali masa depan. Kini aku punya masa depan, masa depan yang akan kurajut bersama Ressa. Aku berhutang banyak kepada Ressa, hutang nyawa dan hutang budi, tapi dia berhutang janji kepadaku. Karena itu kami akan tetap bersama untuk memenuhi hutang-hutang kami. Dan melanjutkan pertandingan kami bersama-sama hingga mencapai garis akhir yang sebaik-baiknya.

Minggu, 09 Juni 2013

Kami untuk Indonesia


Mahasiswa merupakan agen perubahan, kalau dari generasi penerus bangsa saja bersifat pragmatis dan apatis maka bagaimana keberlanjutan Bangsa Indonesia nantinya?  Mahasiswa seharusnya berfikiran idealis dan fleksibel tidak pragmatis yang selalu berfikiran sempit dan instan. Mereka yang hanya menuntut IPK yang tinggi saja tanpa usaha yang optimal dan mementingkan diri sendiri.
Aku sendiri bukan penganut itu, karena aku sadar kuliah itu untuk mencari ilmu dan itu memang kebutuhan kita yang akan jadi bekal hidup kita nantinya, bukan semata-mata hanya untuk mencari IPK yang tinggi atau gelar saja. Lagipula kuliah memang salah satu cara untuk meningkatkan kesejahteraan pribadi, tetapi ada baiknya dengan kesejahteraan pribadi tersebut dapat mensejahterakan masyarakat sekitar, sehingga ada sumbangsih untuk masyarakat bahwa kita pernah menjadi mahasiswa.

Jadi jika sebagian besar mahasiswa pragmatis dan apatis dapat dipastikan Bangsa Indonesia tidak akan bisa bangkit dari keterpurukan, jalan ditempat saja atau bahkan jatuh lebih dalam. Ayo bangkit Indonesiaku.