Suara
angin bergemuruh bagai hatiku yang tak
menentu. Orang-orang banyak yang berlalu lalang di sekitarku seolah tak
merasakan keberadaanku. Siang hari ini
memang cerah tapi tak secerah hatiku yang sedang dirundung pilu. Aku sedih, aku
kecewa tak ada di dunia ini yang mengharap keberadaan ku. Semua orang-orang
yang dekat denganku sibuk dengan kehidupan masing-masing. Tiada satupun dari
mereka yang menghiraukan aku disini.
Disekolahku
pun aku selalu sendirian, tiada satupun yang mau jadi temanku. Kata mama aku
ini anak pintar, mungkin mama memang benar itu nampak selalu saat penerimaan
raport aku selalu menjadi juara 1 entah itu kebetulan atau tidak aku juga
kurang mengerti. Tapi aku berharap setelah aku mengikuti ujian nasional kemarin
aku berharap akulah yang jadi juara umum. Mungkin juga teman-temanku selalu
menganggap aku sombong atau aku aneh.
Aku tak pernah bisa memahami perasaan mereka, mereka selalu tak mau dekat-dekat
denganku. Terkadang aku ingin menghujat Tuhan mengapa ini semua terjadi padaku.
“
Kenapa aku terlahir di dunia ini!!!” aku menjerit sekuat tenaga, suaraku
melengking tinggi, aku sekarang sudah seperti orang depresi yang lebih mendekati gila, bagiku. Namun bagi
orang lain aku memang sudah di anggap gila.
“Cantik-cantik
kok gila...!” suara rendah dari salah seorang pengunjung taman yang sungguh merendahkan aku.
Taman
mulai sepi karena hari sudah menjelang malam. Dinginya angin sudah mulai
menusuk tulangku. Aku tak ingin pulang kerumah. Aku merasa dimana aku berada
tak ada satupun yang menganggap aku ada. Mama yang selalu aku rindukan tak
pernah lagi bisa membelai rambutku dengan lembut. Papa yang selalu melindungiku
kini pun telah sirna.
Aku
serasa tak kuat lagi untuk hidup bersama dengan Nenek ku yang hanya menambah
rasa sakit hatiku ini. Tak ada teman, tak ada keluarga yang bisa aku ajak
berbagi cerita. Sungguh terlalu banyak beban dalam hatiku ini. Entah sampai
kapan aku harus menanggung beban seperti ini sendirian saja. Perlahan kakiku
mulai melangkah menyusuri lampu-lampu kota yang berjajaran syahdu.
“
Irene kenapa malam-malam begini baru pulang!!!” bentak nenekku saat aku baru
memasukki rumah ku sendiri yang sudah seperti neraka bagi ku. Aku tak bergeming
aku langsung saja melewatinya, bagiku tak ada artinya menanggapi ocehan nenek
tua itu. Tanpa fikir panjang nenekku lansung menghampiriku dan mencengkeram
rambutku. Aku hanya tersenyum kecut padanya.
“Anak
gila, ga punya adat... berani sekali kau ini melawan nenekmu sendiri!!! Siapa
yang mendidik mu sehingga kamu jadi anak yang tak punya sopan santun!!!” nenek
ku mulai mencaci-maki aku.
“
Apa nenek tidak sadar, nenek sendirilah yang mebuat aku jadi begini.” Aku
tersenyum kecut. Tidak menyia-nyiakan waktu, tangan nenekku langsung menampar pipiku bertubi-tubi. Perih memang, tapi lebih perih hatiku
daripada pipi ini, aku merasa tak kuat lagi menjalani hidup yang seperti ini.
Aku selalu menyesal kenapa Nenek berubah menjadi monster yang menhantui
hidupku.
“Irene,
diam kamu!!! Semua ini bukan salah nenek, melainkan salah kamu sendiri!!!”
nenek semakin menjadi-jadi kemarahannya. Aku tak mempedulikan nenekku itu, aku
sudah merasa tak punya masa depan. Jangankan untuk mendukung masa depanku
Nenekku sendiri tak pernah menganggap aku ada, padahal tinggal dirinya yang aku
miliki saat ini. Aku kembali keluar dari rumah ku sendiri, aku menyambar mobil
yang ditinggalkan mamaku, langsung saja aku tancap gas hingga mencapai
kecepatan maksimal. Saat ini yang ada di dalam benakku yaitu tempat yang teduh
dan yang menenangkan jiwaku.
Aku
dan mobilku menyusuri jalanan kota yang tak pernah tidur di peristirahatan
malam. Mobilku berlenggang diantara mobil-mobil di jalan itu. Aku menangis, aku
sedih kenapa mama meninggalkan ku begitu cepat. Tiga tahun telah berlalu tetapi
luka yang menyayat karena kepergian mama dan papa masih terasa di palung hati.
Angan ku melayang disaat kebahagiaanku persama papa dan mama di hari lalu,
Nenek tua yang ada di rumahku sekarang pun beubah jahat semenjak kepergian
orang tuaku, aku tau dia terpukul, tapi aku jauh lebih terpukul di tinggal
pergi mama dan papa.
“Ciiiiiiiiiittttttttttt.
Bruuuukkkkkk....!!!!!!!!!” suara yang dahyat dan begitu menggelegar. Aku memang
sedang tidak fokus menyetir. Tiba-tiba saja didepanku ada Container dari arah
yang berlawanan. Aku bisa menghindarinya
tapi memang nasibku pohon disisi jalanlah sebagai gantinya. Aku terkulai, tubuh
ini tak terasa lagi hanya gelap yang menyelimutiku.
***
Aku
berjalan jauh menyusuri tempat yang sangat asing bagiku. Aku tak tau aku berada
dimana. Aku masih memakai seragam putih abu-abuku. Aku terus berjalan tanpa
arah, aku terus berjalan, aku merasa seakan aku berada dalam ruang hampa yang
ada dalam bayanganku selama ini. Aku tak kuasa lagi jika harus berjalan, hati
ini lelah hingga aku terduduk. Aku menutup mataku sejenak seakan aku ingin
tidur tetapi perlahan ketenangan jiwa menghinggapi aku.
Ku buka mataku sedikit demi sedikit, aku
melihat secercah bayangan papa mama yang aku rindukan. Aku ingin berlari
menghampiri mereka tetapi tubuhku terasa kelu, sungguh aku ingin meluapkan rasa
yang selama ini tertahan. Mereka berdua tersenyum simpul dan menyejukkan hati
ini. Aku ingin bangkit, ku coba sekuat tenagaku untuk bangkit. Aku terjaga ku
lihat sekelilingku sepi, sunyi, kutemukan hanya tubuhku tergeletak di ruangan
ini.
Ku
merasakan tubuhku sakit, tiada seorangpun yang menemaniku disini. Aku saat ini
hanya bisa terdiam, air mataku bercucuran hatiku sakit ‘ Tuhan kenapa Engkau
membiarkan mataku terbuka lagi???’ tangisku dalam hati. Aku mencoba menutup
mataku lagi hingga akhirnya aku tertidur dalam tangisku.
“
Irene maafkan aku, aku datang terrlambat. Aku janji aku tak akan
meninggalkanmu, tapi kamu harus berjanji untuk bangun dan bertemu denganku.”
Ada sebuah suara kedengaran sangat bersedih hati, sambil menggenggam tanganku
dia berkata. Seakan aku ingin membuka mataku dan melihat siapa gerangan yang
menangisiku. Tapi aku tak bisa aku terlalu lelah.
“
Irene sudah sadar dari komanya, sekarang dia hanya tertidur jadi Ressa harus
sabar ya.” suara lain menyahutnya, sangat berwibawa sepertinya dia adalah
dokter yang merawat aku.
Ressa,
jadi yang menangisi aku itu Ressa. Siapa Ressa itu sepertinya aku tidak begitu
asing dengan nama itu. Aku terjaga kembali. Dan lagi-lagi aku sendiri, orang
yang tadipun telah pergi. Terkadang aku merindukan bau dunia ini, segar
menyejukkan walaupun banyak masalah yang mendera hidupku ini aku ingin selalu
bersyukur kepada Tuhan yang selalu bersamaku.
“
Irene akhirnya kamu terjaga juga, sudah lama saya ingin berbincang dengan kamu.
Kamu kan sudah lama terbaring disini, setiap hari saya memeriksa kamu tapi kamu
hanya bisa terdiam membisu.” Kata Pak Dokter yang selama ini telah merawat aku.
Masih muda ternyata. Aku tersenyum simpul kepadanya.
“
Pak sudah berapa lama aku terbaring disini? Kenapa aku bisa disini?” dengan
terbata aku memberanikan diri untuk bertanya, lidahku kelu serasa lama tak dapat
bicara.
“
Iya Irene kamu telah setahun lamanya terbaring disini. Kamu kecelakaan, waktu
itu kondisi kamu sangat parah. Ressa yang menolongmu dan membawamu kesini. Dan
nenek kamu juga sangat tertekan.” Jelas Dokter itu.
“
Nenek dimana???” Aku ingin bangun dari tempat tidurku, tapi tubuh ini tak bisa
digerakkan. Aku juga merindukan nenekku yang jahat itu. Dialah satu-satunya
keluarga yang tersisa. Air mataku kembali membasahi mataku.
“
kamu tenang dulu ya Irene, berat memang untuk menerima semua ini. Saya tinggal
dulu Irene.” Kata dokter itu sangat tenang. Dokter itu pamitan dan keluar dari
ruangan ini. Kulihat di sebelahku ada rangkaian bunga yang masih segar,
sepertinya memang baru di ganti. Bunga kesukaanku. Siapa yang tahu kalau aku
sangat menyukai bunga mawar putih ini.
Ingin
sekali rasanya aku untuk keluar dari ruangan yang pengap ini. Aku ingin
menghirup udara segar yang dulu pernah aku rasakan. Tapi kini aku masih
sendiri. Tiada satupun teman yang menjengukku, memang aku tak punya teman
seorang pun. Kata Dokter kondisiku semakin membaik. Tapi itu kata Dokter, kalau
kataku kondisiku hancur, aku telah terbaring tak berdaya diruangan ini selama
lebih dari satu tahun. Aku merindukan rumah yang kuanggap neraka dulu. Aku
merindukan nenekku itu.
Aku
menyesal sekarang andai aku mampu berbuat baik pada orang yang jahat kepadaku
pasti aku hidup lebih bersyukur.’Nenekku maafkan aku, seharusnya aku dapat
nenek rasakan dulu. Nenek juga terpukulkan dengan meninggalnya mama.’ Ucapku
dalam hati.
“Irene
kamu sudah bangun ya? Sudah lama aku ingin ngobrol dengan mu.” Kata seorang
cowok yang memasuki kamarku. Aku terheran-heran siapakah gerangan tampaknya dia
begitu mengenalku, tetapi aku merasa tidak begitu asing dengannya. Dia
tersenyum simpul ke arahku, akupun juga membalas dengan senyuman. “Irene, kamu
masih mengingat aku?” tanya cowok itu dengan penuh harap. Tetapi aku
menggeleng. Sungguh aku tidak yakin kalau aku mengenalnya. Cowok tadi kemudian
bercerita tetapi anehnya dia tidak menceritakan jatidirinya mungkin dia ingin
memancing ingatanku.
“
Irene, kita jalan-jalan ya, aku ingin kamu merasakan kembali udara yang segar.”
Cowok itu langsung memindahkan tubuhku ke kursi roda dan mengajakku
mengelilingi bangunan yang selalu beraroma obat ini.
Setelah dia lelah sendiri, akhirnya dia mengakui
jatidirinya, dialah Ressa. Aku sedikit sukar mengingatnya. Yang aku ketahui dia
sangat baik mengenal aku. Dialah Ressa, teman kecil ku dulu yang maninggalkanku
9 tahun yang lalu. Dulu sewaktu kami masih kanak-kanak di berjanji akan selalu
menjagaku, melindungiku dan tidak akan jauh dariku.
Tetapi
saat itu Ressa harus pergi bersama dengan orang tuanya. Mulai saat itu aku
sedih, aku tidak percaya dengan teman. Ressa tak pernah lagi memberi kabar
kepadaku. Aku selalu menunggu kehadiran Ressa kembali. Sembari melihat bintang
sirius yang tak pernah lelah bersinar terang. Dulu aku juga tidak ingin lelah
menunggu Ressa. Hingga kini Ressa telah ada di depan mataku lagi. Ressa sudah
datang untuk mengisi hari-hariku lagi.
Ternyata
penantianku tidak sia-sia, Ressa datang kembali bukan untuk berpamitan lagi,
tetapi untuk menepati janjinya di massa kecil dulu. Dengan penuh kesabaran dia
selalu menemaniku hingga hari berganti hari dan bulan berganti bulan. Ressa
senantiasa membimbing langkahku menapaki hari-hari yang sukar bagiku. Hingga
aku mampu kembali ke kehidupan yang seperti dulu Ressa tetap ada di samping ku.
Aku tenang sekarang karena aku telah menemukan teman yang sepadan untukku.
“
Irene sekarang waktunya kita pulang ya, kamu sudah sembuh dan kata Dokter kamu
sudah boleh pulang.” Kata Ressa dengan wajah yang sumringah.
“ Benarkah,
jadi sekarang aku boleh pulang yea,,, aku bisa ketemu nenek lagi donk.” Aku
sudah tak sabar lagi ketemuu nenek ku yang jahat kepadaku dulu. Tak terasa,
setahun sudah aku terbaring dan tinggal di tempat ini.
“Ehm,
nanti kalau sudah sampai ada sesuatu hal yang ingin aku sampaikan.” Sepertinya
Ressa menyembunyikan sesuatu. Dia mendorong ku yang masih terduduk di kursi
roda ini. Kami segera menuju mobil yang akan mengantarkan kami pulang ke rumah.
Beberapa menit berlalu, akhirnya sampai juga kami di rumah megah ini tapi
sayangnya tak berpenghuni. ‘pasti hanya nenek tua itu’ telintas di benak ku. Setelah aku memasuki
rumah ku ini aku jadi heran sendiri dimana gerangan nenek itu.
“Ressa,
nenek dimana?” tanyaku tidak sabar. Dia tak menjawab, tapi hanya memberiku
sebuah album foto. Jantung seakan berhenti berdetak, In Memoriam: Ny. Ratna Hanggarbeni. ‘Aku tak percaya, nenek
telah tiada, kenapa! Kenapa!!!! Kini aku
benar-benar seorang diri tak ada lagi keluarga!’ teriakku dalam hati. Perlahan
tapi pasti air mata ini membasahi pipiku, Ressa memelukku hangat, seakan ikut
merasakan apa yang aku rasakan.
“
Irene, jangan sedih, biarkan nenek istirahat dengan tenang disana. Nenek ga
pernah lelah menunggui kamu di rumah sakit kala itu, akhirnya beliau jatuh
sakit. Tepat bulan lima di hari ulang tahunmu nenek tutup usia. Kamu yang sabar
ya Irene!” Ressa mencoba menenang kan aku.
“Ressa,
kenapa ini semua terjadi kepadaku, aku kecelakaan kemaren karna aku bertengkar
dengan nenek Res, Aku menyesal Ressa, aku belum sempat minta maaf. Kenapa aku
terlambat?” tangis ku semakin menjadi-jadi dipelukan Ressa.
“Berbesarhatilah
Irene, semua ini telah terjadi. Kamu yang sabar menerima semua ini.!” Hibur
Ressa. “Oh iya, selamat ya kamu mendapat juara umum kelulusan kemaren, karena
kamu terbaring koma, jadilah aku yang mengurus ijazah kamu. Tahu ga, nenek
sangat bangga kamu menjadi juara, sebelum beliau pergi, beliau menitipkan surat
ini untuk kamu.!” Tambah Ressa.
Aku
mulai membaca...
‘Irene
cucu kesayangan nenek, disaat kamu membaca surat ini pastilah nenek telah
tiada. Bukan nenek tidak mau menunggu kamu hingga membuka mata. Tetapi nenek
sudah harus menyelesaikan pertandingan nenek. Nenek sadar nak, nenek sangat
bangga mempunyai cucu yang cerdas sepertimu. Cucu nenek yang tegas, cucu nenek
yang berani dan sangat nekat. Irene, maafkan perlakuan nenek kepadamu,
seharusnya nenek tidak terlalu keras kepadamu, seharusnya nenek memberikan
kasih sayang yang melimpah menggantikan orang tuamu, maafkan nenek yang sangat
terpukul ini nak. Nenek juga yang membuatmu terbaring koma, andai malam itu
kita tidak bertengkar pasti semua tidak begini jadinya. Selepas Nenek pergi,
kamu tidak boleh sedih Irene. Sekarang ada Ressa yang bisa menjagamu,
menemanimu setiap saat. Satu pesan Nenek untuk mu Irene, lanjutkan
pertandinganmu sebaik mungkin, hingga kita kembali bersama suatu saat nanti...’
aku memeluk erat surat itu, aku sungguh menyesal telah menyia-nyiakan hidup
bersama nenek. Nenek ku yang jahat, nenekku yang tersayang.
Kini
aku melanjutkan hidupku lagi, aku mulai menata kembali masa depan. Kini aku
punya masa depan, masa depan yang akan kurajut bersama Ressa. Aku berhutang
banyak kepada Ressa, hutang nyawa dan hutang budi, tapi dia berhutang janji
kepadaku. Karena itu kami akan tetap bersama untuk memenuhi hutang-hutang kami.
Dan melanjutkan pertandingan kami bersama-sama hingga mencapai garis akhir yang
sebaik-baiknya.